Di Jalan Dakwah Aku Menikah November 19, 2007
Posted by haSna- ^_^ in Dari Buku.trackback
(Libur dalam rangka hari raya idul fitri hampir sebulan yang lalu, aku berhasil menamatkan beberapa buku, berikut adalah beberapa buku yang ku baca, mungkin bisa sedikit berbagi ilmu di sini –nggak nyangka, setelah aku mulai menghimpun kekuatan untuk bertobat, ternyata terjadi hal-hal di luar dugaan, Hah…. )
Di Jalan Dakwah Aku Menikah, Cahyadi Takariawan, 2003, TaLenta, Yogyakarta
Hlmn. 217
Bahkan seandainya yang diundang itu tengah berpuasa, ia tetap wajib datang, sebagaimana sabda Rasul SAW, “Apabila salah seorang diantara kamu diundang makan, penuhilah. Kalau tidak puasa, makanlah dan jika sedang puasa doakanlah.” (riwayat Muslim, An Nasa’i, Ahmad dll)
Bagi orang yang berpuasa sunnah, disunnahkan untuk berbuka ketika menghadiri acara walimah dan tidak ada kewajiban mengganti puasa sunnahnya. Rasul saw bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu diundang makan, sambutlah, kalau suka makanlah dan kalau tidak suka jangan makan.” (riwayat Muslim dan Ahmad)
Dalam riwayat lain, Rasul saw bersabda, “Seseorang yang puasa sunnah merupakan penguasa dirinya. Kalau ia mau boleh puasa dan kalau mau boleh berbuka.” (Riwayat An Nasa’i, AL Hakim, Baihaqi, dll)
Hlm. 280
Tantangan keluarga di tahun pertama
- Masalah penyesuaian diri
Sifat dan karakter yang tidak sama, selam tidak dalam konteks yang membuat masalah, tidak perlu senantiasa dibuat seimbang, dengan frekuensi yang sama persis. Yang lebih penting adalah memiliki empati yang cukup terhadap pasangan dan mendialogkan perbedaan tsb sehingga tidak saling mengungkit dan mempermasalahkan.
- Kebiasaan diri sebelum menikah
Banyak orang memasuki kehidupan rumah tangga dengan keyakinan bahwa pasangannya akan bisa mengerti dan memahami gaya hidup dia di saat lajang. Atau bahkan menginginkan pasangannya mengubah pola hidup sesuai kebiasaan dirinya. Apabila keduanya saling menuntut, tak akan ada pihak yang diuntungkan. Sebaiknya keduanya saling terbuka membicarakan sebatas apa toleransi terhadap kebiasaan hidup masing-masing bisa diberikan. Dengan keterbukaan dan keikhlasan seiring berjalannya waktu, diharapkan akan terbentuk keseimbangan pola kebiasaan antar suami istri yang bisa diterima kedua belah pihak tanpa adanya rasa tertekan.
- Harapan terhadap pasangan terlampau berlebihan
Sebaiknya, berharaplah sewajarnya, tidak berlebihan dan memiliki kesiapan untuk menerima apa adanya pasangan hidup yang Allah tentukan. Dengan demikian, kalau terjadi gap atau jarak antara idealita dengan realita, tidak menyebabkan kekecewaan dan keputusasaan yang berkepanjangan.
- Pengaruh kejadian masa lalu
Persepsi negatif terhadap lawan jenis akan bisa mematikan keinginan melakukan pernikahan karena ketakutan yang berlebihan. Hendaknya trauma seperti itu dikikis secara proporsional, dengan bergaul di dalam komunitas orang-orang shalih yang memiliki kebaikan. Bukankah Rasullullah contoh teladan semua manusia, tidak pernah memukul istrinya? Jangankan memukul, beliau tidak pernah melukai perasaan istri-istrinya walau hanya dengan kata-kata.
- Penyamaan persepsi dan aplikasi
Harus ada yang mau berkorban dengan mengikuti pendapat slah satu, disertai penuh kelegaan, bukan paksaan. Jika tidak, sulit dibayangkan bagaimana keluarga ini akan mencapai ketenangan dan kebahagiaan hidup jika senantiasa diwarnai oleh debat sekitar halah haram dan sunnah bid’ah setiap hari. Yang teramat penting adalah membangun persamaan persepsi untuk kemudian menuju aplikasi yang disepakati kedua belah pihak. Komunikasi efektif dan saling melegakan kedua belah pihak amat diperlukan untuk menjaga terjadinya kesamaan persepsi dan aplikasi tersebut.
Hlm. 298
Apa yang sebaiknya dilakukan?
- Keterbukaan (musharahah), ta’aruf dan musyawarah
Keterbukaan adalah kunci awal yang efektif untuk menghadapi tantangan dan memecahkan persoalan. Biasakan diri berkomunikasi dengan penuh keterbukaan dan kelegaan hati. Itulah cara saling mengenal (ta’aruf) yang amat efektif. Keterbukaan mungkin tidak gampang tetapi dengan pembiasaan diri, sesuatu akan menjadi lancar dan mudah. Yang berat memang mengawalinya tetapi bukankan anda memang ingin berubah menuju keadaan yang baik? Maka mulailah!
- Memulai terlebih dahulu
Jangan menuntut pasangan anda untuk memahami anda tetapi mulailah dari anda untuk memahami perasaan dan keinginan pasangan anda. Jangan menuntut pasangan adana melakukan sesuatu yang terbaik bagi anda tetapi mulailah dari diri anda dengan melakukan hal-hal yang terbaik untuk pasangan anda. Saling menuntut hanya berujung pada kekecewaan. Saling memberi akan berdampak menyenangkan diri dan pasangan. Sangat bagus bila keduanya memiliki kesadaran untuk memulai kebaikan dari dirinya. Dengan demikian akan tercipta suasana berlomba menunaikan kewajiban, memberikan bantuan kepada pasangan dan menciptakan kebersamaan yang hangat.
- Tidak mengabaikan hal kecil
Yang harus amat diperhatikan adalah kemampuan menciptakan keserasian dan keharmonisan, bukan sekedar mempertentangkan besar atau kecilnya ukuran masalah. Kalaupun masalah itu kecil tetapi mampu merusak keharmonisan keluarga maka yang semula kecil tersebut menjadi sangat signifikan untuk diperhatikan.
- Saling berlomba mengalah untuk kebaikan bersama
Sikap yang tidak produktif adalah kalau kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah. Keduanya mengajukan pembelaan dan alasan-alasan pembenaran diri dengan melemparkan kesalahan pada pasangan.
- Kembalikan semuanya kepada Allah
Karena keluarga dibentuk di atas landasan ibadah maka setiap masalah hendaknya senantiasa dikembalikan kepada Allah. Mohonlah kebaikan dengan berdoa dan munajat kepadaNya di setiap kesempatan.
—dengan apa hidup anda pertahankan jika api kesejatian diri telah anda padamkan sejak ia belum menyala? —
Catatan penutup (321)
………………
Jika mereka mengerti ajaran Islam, ketika memilih jodoh dan melaksanakan pernikahan akan menggunakan cara pandang dan tata cara Islam. Mereka tidak mengawali pernikahan mereka dengan pelanggaran syari’at, juga tidak menambah pelanggaran saat terjadinya pernikahan. Dalam rumah tangga mereka nantinya akan dilakukan berbagai macam ketentuan Islam mengenai rumah tangga. Sampai ketika kelak punya anak, akan dikelola sesuai arahan Islam.
Begitulah siklus kebaikan yang akan menyebabkan kebaikan senantiasa bertambah menguat dari generasi ke generasi. Rasulullah saw telah memasukkan wanita shalihah sebagai salah satu unsur penting dalam perbaikan urusan dunia dan akhirat:
“Hati yang bersyukur, lisan yang banyak berdzikir, dan istri yang shalihah dapat membantumu dalam urusan dunia dan agamamu, adalah sebaik-baiknya sesuatu yang menjadi simpanan manusia.” (riwayat Baihaqi)
Istri shalihah tentu merupakan pasangan dari suami shalihah, disebutkan Nabi saw sebagai sebaik-baiknya simpanan manusia. Hal ini menunjukkan tidak akan merugi seorang suami yang memilih wanita shalihah sebagai istri, dan tidak akan merugi seorang perempuan yang memilih laki-laki shalih sebagai suaminya. Di sisi lain, tindakan pacaran yang dilaksanakan banyak kalangan dewasa ini tidak memiliki jaminan kebaikan apapun bahkan sudah pasti keburukan dan dosanya.
Wanita shalihah baru akan menjadi milik yang paling berharga – karena bisa membantu urusan dunia dan agama – ketika telah dinikahi menjadi istri yang sah. Demikian pula sebaliknya. Artinya, laki-laki dan perempuan yang mengadakan interaksi dan ikatan-ikatan sebelum terjadinya perkawinan, tidak ada kebaikan yang bisa dijanjikan atas keduanya, atau masing-masing dari mereka.
Untuk itu, bersegeralah melaksanakan pernikahan, wahai para pemuda muslim. Jika anda sudah memiliki kesiapan diri yang memadai, jangan lagi menunda-nunda menunaikan sunnah yang satu ini. Allah akan memberikan kemudahan bagi anda, selama anda setia menapali jalanNya!
Nasihat ustadz Asy Syaikh Ali Thanthawi:
“Islam tidak menyuruh kita untuk memenjarakan nafsu dan tidak menyuruh kita menjadi seorang biarawan karena hal itu bertentangan dengan tabiat yang telah Allah tetapkan untuk kita. Demikian juga Islam tidak memerintahkan kita untuk membiarkan nafsu menjadi besar dan kuat, yang nantinya justru akan membahayakan orang lain. Namun Islam mengajarkan kepada kita bagaimana merawat dan memeliharanya agar tetap menumbuhkan cabang dan ranting yang menumbuhkan manfaat di samping memotong duri-duri yang dapat menyakiti agar memberikan hal-hal positif dan menyingkirkan mudharatnya.
Nafsu syahwat itu seperti air bah yang turun dari puncak gunung. Barang siapa berdiri menghadangnya maka ia akan diterjang dan dilumatkan. Barang siapa membiarkannya maka ia bakal memporakporandakan negeri dan memusnahkan umat manusia. Orang yang berakal sehat tentu akan membuat jalan untuknya, menggali tanah sedalam-dalamnya dan mengalirkan air bah itu ke dalam sana. Inilah yang diperbuat Islam.
Inilah sikap Islam berkenaan dengan pengendalian nafsu. Bukan kerahiban dan bukan pula permisifisme. Akan tetapi penyaluran dan pengendalian yang mendatangkan buah yang positif.
Pernikahan yang ideal menghimpun berbagai hal yang indah, semangat, maslahat, cinta dan kasih sayang. Ia semacam senyawa kimia yang kokoh tak pernah dapat diurai selamanya. Cinta sejati – sebagaimana yang kita kenal – adalah cinta yang tumbuh sebagai buah pernikahan, bukannya benih dari pernikahan.
Seandainya engkau dianugerhai harta Qarun dan fisik Herkules, lalu dihadirkan dihadapanmu sepuluh ribu wanita tercantik, dan masing-masing dari mereka memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri, apakah engkau mengira bahwa itu cukup? Tidak! Saya katakan dengan selantang-lantang suara: Tidak! Namun, satu wanita saja yang kau peroleh dengan halal, cukuplah sudah.
Wahai anakku, sesungguhnya yang dilakukan oleh seorang pezina adalah sama seperti yang dilakukan oleh sepasang suami istri, itu-itu juga. Bedanya, yang pertama sembunyi-sembunyi dan menutup diri dari pandangan orang lain, di samping sebenarnya ia senantiasa dibayang-bayangi rasa takut akan datangnya penyakit yang kini demikian marak; sesuatu yang tidak pernah kita dengar sebelumnya, suatu penyakit yang sedemikian membuat ia khawatir bahwa diri dan keluarganya akan menjadi obyek gunjingan orang.
Sedangkan yang kedua, bahkan orang-orang diundang untuk menghadiri resepsi pertemuannya: nikah. Ia perindah rumahnya dengan lampu-lampu hias, hingga orang berdatangan dengan wajah cerah mengucapkan selamat dan saat pergi mendoakannya.
Untuk yang pertama, disediakan api neraka setelah itu, sedangkan untuk yang kedua surga seluas langit dan bumi menantinya di akhirat kelak, tentu jika mereka mukmin yang niatnya lurus mengharap pahala Allah dan menjauhi hal-hal yang haram.
Nafsu syahwat itu laksana bom yang siap menghancurkan. Bila pemantiknya tidak kau sentuh, engkau aman dari kedahsyatan ledakannya, maka hati-hatilah untuk tidak menyentuh agar engkau tidak dilumatkan olehnya.
Bahwa jika engkau memandang anak gadis tetangga yang cantik, engkau merasakan suatu kenikmatan, memang benar. Itu sungguh suatu kenikmatan. Namun jangan engkau lupa bahwa gadis itu memiliki saudara laki-laki, sebagaimana juga engkau memiliki saudara perempuan. Jika engkau merasa harus membela saudara perempuannya. Apakah engkau rela saudaramu digoda oleh tetanggamu?”
Comments»
No comments yet — be the first.