jump to navigation

Kau Selalu di Hatiku March 6, 2008

Posted by haSna- ^_^ in Kisah.
trackback

Seseorang bilang kalo Pebruari itu bulannya LopeLope. Sekarang Februari telah berlalu tapi bukan berarti ‘Lope’nya juga berlalu. Saatnya mengenang. Mengenang yang indah dan menyenangkan. Agar cinta itu tidak berlalu lantas luntur, meski tanpa kebersamaan.

Pertama kali ketemu, aku nggak ingat kapan itu. Tapi aku ingat saat mengensankan pertama kali dengannya. Sebenarnya bukan mengesankan tapi memalukan. Aku masih belum tahu siapa lelaki itu dan kenapa dia ada di rumahku dan juga kenapa orang-orang rumah begitu menerima kehadirannya. Sudah berhari-hari dia bersamaku tapi aku belum bisa membuka percakapan dengannya hingga suatu ketika ada keinginan besar mendorongku untuk menyapanya. ‘Hei’, itu sapaan pertamaku untuknya. Selanjutnya pembicaraan berjalan dengan cukup lancar meski aku belum tahu siapa dia, namanya dan bagaimana seharusnya aku menyebutnya. Hanya ‘Hei’ yang kugunakan untuk memanggil dan berpamitan setiap kali aku ingin mengakhiri pembicaraan dengannya.

Beberapa hari berlalu, selama ini kalau aku ngobrol dengannya selalu cuma berdua. Kalo ada banyak orang di sekitar kami, aku enggan berbicara dengannya. Hingga suatu hari ketika aku sedang berbicara dengannya tiba-tiba seseorang (masih anggota keluargaku) datang. Rupanya dia kaget mendengar pembicaraan kami, tepatnya sapaan yang kugunakan untuk lelaki itu. Wanita setengah baya itu pun terheran lantas tertawa, “Nak, itu bapakmu. Manggilnya kok ‘hei’, panggil dia ‘Bapak’”. Alhasil, aku yang waktu itu masih 5 tahun tertunduk malu sambil nyengar-nyengir. Alhasil lagi, untuk beberapa hari ke depannya aku enggan bicara dengan lelaki itu, rasanya masih canggung untuk memanggilnya dengan sebutan baru.

Bulan berganti. Begitu juga tahun. Dia datang dan pergi. Aku tak ingat hal apa yang akhirnya membuatku bisa menyebutnya ‘Bapak’. Dalam suratku (yang oleh karena itu akujadi hobi nulis) yang kuselipkan di amplop surat ibu untuknya, juga dalam pertemuan kami yang mungkin sekali dalam beberapa tahun. Malaysia dan Kapal, cuma kata itu yang bisa kuingat ketika aku tanyakan kemana dia akan pergi atau darimana ia datang. Taxi selalu menjadi kendaraan dengan berjuta harapan. Harapanku akan kehadiran sosoknya menjadi semakin besar setiap kali ada Taxi melintas di depan rumahku. Berharap dia yang turun dengan koper besarnya membawakan sekian banyak oleh-oleh untukku. Hadiah untukku, seperti boneka atau seperangkat alat tulis cantik yang pernah dia paketkan untukku ketika aku bisa meraih nilai 9 untuk matematikaku saat SD. Hadiah2 itu datang meski sosoknya tak sering terlihat di depan mataku.

Suatu hari aku pernah menemukan buku lagu yang isinya chord gitar. Ternyata itu punya Bapakku. “Bu, berarti bapak bisa maen gitar?” tanyaku polos. “Iya.” jawab ibuku singkat. Wah, berarti bapakku keren….itulah yang aku simpulkan dari apa2 yang diceritakan tentang dia oleh ibu sehingga semakin lama aku semakin ingin dia segera pulang dan bekerja di sini saja, di dekat kami, semakin mencintainya.

Dia pernah beberapa bulan ada di rumah karena harus mempersiapkan kursus dalam rangka dia mau diangkat jadi asisten kapten di Kapal untuk berlayar selama beberapa bulan ke depan, itu cerita yang aku dengar. Aku juga ingat sekali dengan sepatu coklat yang dia gunakan, gedhe banget. Waktu itu dia juga sempat beli motor baru bermerk … (sudah pernah aku sebutkan), untuk mendukung aktivitasnya dan tentunya untuk jalan2 dengan kami, 3 anaknya yang masih kecil2 dan imut2. Ke pelabuhan liat matahari terbit, keliling perumahan2, dan ke tempat buku bekas di Surabaya. Buku yang dulu kami beli, sekarang entah dimana tapi dulu sering banget kubaca, salah tiganya buku cerita rakyat ‘Bawang Merah Bawang Putih’, ‘Papa Jadi Raja’ dan tentang Gajah yang maen sirkus. Pernah juga, sekali, kami sekeluarga makan penyet burung (gak tau burung apa yang biasanya di masak) di warung dekat jalan daerah terminal gresik yang kini jadi sederet ruko. Yup, sejak saat itu, warung2 pinggir jalan lebih memikat seleraku untuk makan dari pada restoran2 semewah apapun itu, suasananya jelas berbeda tapi gak menutup kemungkinan aku juga mau makan di restoran itu, apalagi di traktir, ayo aja lagi, nyoba semua suasana dan berbagai macam menu….jadi laper…lha kok ngelantur…kembali ke topik….

Suatu hari datang berita mendebarkan yang cukup membuatku shock yang mengabarkan bahwa dia jatuh dari kapal saat berlayar dan mengalami patah tulang serius di kakinya. Untungnya bisa di selamatkan dan pulang beberapa bulan kemudian dengan membawa hasil ‘rongsen’ tulang kakinya saat di rawat dulu. Ah, sudahlah tidak penting apa-apa yang di bawa asal dia bisa pulang dengan selamat dan kondisinya normal.

Lantas, sesuatu terjadi yang membuat kondisi rumah tak sedamai biasanya. Sesuatu yang membuat semuanya berantakan. Sesuatu yang membuat ayahku enggan berada di rumah meski untuk beberapa jam saja. Dia datang cuma sesekali, mengajak kami jalan-jalan sebentar padahal dia tidak sedang berpetualang dengan kapal layarnya atau tidak sedang mendaki gedung2 pencakar langit di negeri seberang. Tak jelas mengapa seperti itu tapi aku sempat memudarkan harapanku padanya. Terdengar juga kabar2 angin yang membuatku muak, cerita yang kucuri dengar karena keluargaku tidak pernah melibatkanku dalam urusan keluarga ketika aku masih kecil, jangankan melibatkan, cerita saja nggak. Tapi waktu menceritakan semuanya dan keterbukaan mereka padaku juga kedewasaan akhirnya bisa membawa diriku pada sebuah makna di balik semua peristiwa. Membuatku bisa mengerti dengan keadaan dirinya yang akhirnya membuatku menerima kehadirannya kembali di hatiku.

Saat pergi jauh dan semakin jauh, aku hanya bisa merindukannya. Rindu yang mungkin bisa sedikit terbayar dengan menatap potretnya.

Ini dia, salah satu foto dia yang aku suka. (Fotonya banyak banget di rumah, ternyata jiwa ‘gila foto’ku nurun dari dia, hehe)

Kau tak selalu di sampingku tapi kau selalu di hatiku. Love U, My Father, n makasih banget atas peran sertanya (^_^) untuk menghadirkanku di dunia ini dalam keluarga yang luar biasa.

Comments»

1. Malecious Genius - March 6, 2008

wah wah… Bapaknya sama gaulnya sama bapakku. Bapakmu keren euy. Tp masih keren bapakku duonkk… hehe
Ya klo dah menyangkut masalah orang tua kadang kita merasa sedih. Kenapa ya kita selalu membuat mereka marah dan menangis. Jarang sekali kita melihat mereka bisa tertawa lepas. Entah karena kesibukan mereka ataupun kita sendiri yang sok sibuk. Tp itulah orang tua kita. Pasti ada satu hal yang membuat kita bangga pada mereka walaupun menurut orang lain itu masih kurang. Arrgghh. Lama2 aku yang sedih nih. fighting for love aja deh buat mbokdhe

2. achoy - March 6, 2008

ada kata yang membuatku sejenak menahan nafas..dan kembali menghembuskannya dengan panjang….sebuah pengungkapan yang benar – benar tulus dan memberikan banyak cerita. Itulah sebuah damai dalam jiwa dan tenang dalam alam pikiran …semua menjadi sebuah kenangan…

3. galihyonk - March 6, 2008

hoHOho,,,
bulan Pebruari “bulan Cinta” diRALAT…
everyday is about love..
(Stuju…. trus kabur!?!..)
:)

4. Ketika malam tak lagi gelap « BloG - Ahh - March 9, 2008

[...] kasih sayang. Apa yang akan terjadi di dunia ini jika tanpa adanya kasih sayang? Seperti kata temanku. Itulah sebuah ungkapan cinta untuk mereka – mereka yang tidak akan pernah melupakan kasih sayang. [...]

5. nuha - March 12, 2008

->>> Male…
yo…

->>> Achoy
nahan nafasnya jangan lama2 ya…ntar bablas. Jadi kenangan indah

->>> galihyonk
love is …. tidak cukup kata untuk mendefinisikannya