jump to navigation

SK RI, PSi March 18, 2008

Posted by haSna- ^_^ in Se-kul.
trackback

6 sks, Tugas Akhir (TA) yang kalo punyanya S1 disebut Skripsi, Mata Kuliah ini sudah tercatat di Kartu Rencana Studi (KRS)ku sejak semester lalu. Namun karena ada beberapa hal maka dua kata itupun muncul lagi di KRSku semester ini. Sudah sejak dahulu kala aku dengar pernyataan kalo TA itu bikin pusing tujuh puluh keliling. Aku sih nggak terlalu mikirin itu, ngapain juga ikut pusing2 mikir TA, orang ngambil aja belum. Lha, skarang mulai ngerasa sendiri kalo TA itu bikin ruwet.

Sebenarnya yang bikin ruwet bukan TAnya itu sendiri tapi embel2nya seperti harus bimbingan dan nemui dosen ini itu yang notabene super sibuk, nggak mudah ditemui ato kalo bikin janji sering dibatalin sepihak atau perlu menunggu berjam-jam untuk bisa ketemu, kalo ditinggal/disambi yang lain takutnya malah ngilang lagi tuh dosen. Pernah suatu hari aku sampe ketiduran nunggu di kursi depan ruangan dosenku (emang dasarnya aku ngantukan dan tidak sedang menemukan hal yang cocok untuk ngisi waktu tenggang itu).

Satu lagi yang jadi kendala utama dalam menyelesaikan TA. Konsentrasi. Yah, aku sering kali keilangan konsentrasi kalo ngerjain TA. Bisa diitung, dalam waktu satu semester kemaren, kalo diakumulasikan kurang lebih waktu yang aku abisin untuk mikir TA cuma 2 minggu. Terus terang, ada banyak hal yang lebih menarik minatku untuk ditekuni daripada sekedar cari referensi sana sini untuk bahan TA seperti ngeblog, ikut kegiatannya pramuka, outbound dan terutama pekerjaan2 yang menghasilkan duit seperti survey, jaga rental dll.

Suatu saat temenku di jurusan ngingetin aku, “Udah, surveynya sementara berhenti, TAnya diberesin dulu….” ato dosen juga ngoceh “Sudahlah, kalian sudah tua. Nggak jamannya lagi ngurus kegiatan sana sini, TAmu selesain, coba bahagiakan hati orang tuamu yang menunggu di rumah.” Yah, dua saran itu bersarang beberapa saat saja di otakku coz aku ngerasa aku juga nggak ngelakuin hal yang sia-sia kala menomorduakan TA. Malah kalo ngerjain TA doang aku bisa tambah stress lagi pula hal yang lebih aku utamakan itu adalah modal utama untuk melanjutkan hidup (cieh….) dan juga menyokong fisik serta psikis untuk bisa nerusin TA lebih lanjut. Dengan begini bukan berarti aku nggak mau ngelanjutin TA dan nggak mau ngebahagian orang tua.

Ada pepatah bilang, ilmu apapun yang kamu pelajari, ujung dari ilmu itu adalah penemuan dari jati dirimu atau ujung dari setiap ilmu adalah pengenalan/penyadaran terhadap keberadaan diri sendiri. Kenapa bisa begitu?? Coba dipikir lagi, kalo sekarang belum bisa menyepakati pernyataan ini, mungkin suatu saat, entah kapan, entah karena apa. Bicara tentang jati diri, ada yang pernah tanya padaku, “Gimana cara menemukan jati diri kita?”, anehnya dengan spontan tanpa mikir dulu, aku langsung jawab “Dengan Mencoba!”, gak tau bener gak tau salah tapi pernyataan ini seolah cukup bisa kupertanggungjawabkan. Dan, orang bilang, seseorang akan menemukan ‘dunia’nya saat kuliah. Ya, itu terbukti setelah beberapa semester aku bergelut di statistika ITS. Akhirnya aku sadar kalau statistika itu bukan duniaku karena sudah tidak bisa membuat diriku nyaman dengan berbagai rumus, persamaan dan teori ini itu, maka daripada itu aku ingin meninggalkannya. Tapi dengan jalan yang benar agar nggak sia2 ortuku dulu pontang-panting nyariin duit untuk bayar uang pangkal. Harus lulus, so TAnya kudu diberesin. SEMANGAT!!!

Padahal nih ya…aku juga pernah merasa cocok banget ada di statistik sampe keluar pernyataan ‘inilah duniaku’. Tapi ya dasar manusia, nggak ada yang abadi, semuanya bisa berubah, justru perubahan itu sendiri yang abadi. Dulu aku enjoy dengan statistik ketika berkelut dengan orang2 statistik aja, ikut survey sana sini (ini yang bikin aku merasa nggak salah milih jurusan statistik, banyak proyek untuk mahasiswanya. Selain bisa dapet duit super banyak juga bisa jalan2 sana sini. Pekerjaan lainnya entry data yang butuh ketelitian super dan nganalisa data yang biasanya dikerjain 1-2 malam saja tapi bisa dapat HR sama dengan 3-4 bulan jaga rental, haha….tapi proyek gini jarang)

Setelah ganti temen main, duniaku pun rasanya juga berubah. Dari yang seneng ngitung2, ngentry2, interview2, berubah haluan ke seneng berkegiatan lain. Rasanya beda aja. Ada hal2 yang nggak bisa aku dapetin di dunia yang pertama kugeluti. Seperti mulai suka ikut kegiatan pramuka di alam atau malah kecanduan outbound yang notabene juga bisa memberiku pemasukan yang lumayan, ditambah lagi dengan suasanya yang lebih menyenangkan dan lebih bisa fresh. Tapi tetep, hati kecilku tidak bisa beranjak dari dunia statistik. Entah karena ada sedikit bakat disana (karena aku termasuk orang melankolis yang katanya telaten dengan data dan grafik/diagram) atau karena aku nggak mau kuliahku di statistik sia-sia.

Kepikiran juga mau menggabungkan dua dunia yang aku geluti yakni menerapkan ilmu statistik di dunia outbound atau di pramuka. Dari sini jadi kepikiran belajar tentang sikap manusia yang bisa diitung pake cara statistik dan hasil analisanya bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan peningkatan sumber daya manusia atau mencari tingkat efektivitas sebuah metode/kegiatan.

Entah angin apalagi yang membawaku ke dunia lain lagi sampe terjerumus dalam masalah Narkoba. Ups, tenang, bukan terlibat dalam penyalahgunaannya tapi upaya pencegahannya. Ini sebagai dampak dari terlibatnya aku di beberapa kegiatan plus dekat dengan dengan kabag mawa ITS yang terus terang juga banyak membantuku selama kuliah dan menyerahkan mandat untuk mengadakan kegiatan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Tanpa ingin mengabaikan semua yang sudah didapatkan akhirnya kuambillahTA yang bertopik narkoba dengan mengalisa sikap mahasiswa terhadap permasalahan ini.

Lha, tema ini tergolong baru di jajaran skripsi teman2 statistika ITS. Semester kemaren proposalnya dah pernah aku seminarkan, itupun seminar terakhir semester itu. Para penguji berkomentar ini itu yang berujung pada revisi total. Yah, kurevisi juga dengan berkali-kali mendatangi sang penguji. Ada dua penguji, yang satu orang cuek bebek dan gampang banget ngasih tanda tangan persetujuan tapi yang satu berhubung orangnya ahli banget dalam hal riset sosial dan jam terbangnya dah ke dunia internasional maka, deng…deng….Sebenarnya ini jadi kesempatan loh buat bisa dekat dengan pengujiku yang notabene punya banyak proyek. Harap punya harap, aku juga pingin ketiban proyekan2nya yang menggiurkan, haha….

Awalnya, senanglah aku bisa punya berkali-kali kesempatan sharing dengan ibu dosen ini. Tapi ujung2nya lumayan nggak menyenangkan. Proposalku nggak disetujui rek, karena terlalu banyak perubahan maka aku diminta seminar lagi, alhasil menunggulah aku semester depan lagi. Padahal ya…proposalku dah super lengkap dibandingkan teman2ku yang dosen pengujinya sama. Sang Ibu penguji juga bilang “Nggak cuma kamu yang melakukan kesalahan ini tapi mahasiswa2 lain juga.” Aku mbatin “Lha, kenapa cuma aku yang nggak disetujui, sedangkan teman2ku pada lolos.” Halah, aku juga malas ambil pusing, mending ngurusin yang lain. GPP, dengan sok PEDE aku memotivasi diriku sendiri dengan pernyataan “mungkin aku akan dipersiapkan menjadi generasi penerus yang luar biasa sehingga tantangan2 sepeti ini sangatlah dibutuhkan. ” Meski mata sempat berlinang, akhirnya mengembanglah senyum dibibirku dan bisa merangkai lagi semangat untuk melanjutkan langkah. Akhirnya, ya jalanin aja semampunya tanpa meninggalkan hal lain yang jadi patokan hidup toh semester depan juga masih harus bayar spp coz ada satu mata kuliah yang musti diulang, sayang kan kalo bayar spp sekian ratus ribu hanya untuk 3 sks (hehe….ini pembelaan yang nggak mutu).

Nah, akhirnya sampai jugalah aku di semester ini. Kemaren itu hari terakhir ngumpulin draft proposal skripsi. Aku sudah melalui prosedur yang ditentukan, begini, begitu, begini dan begitu. Bimbingan proposal minimal 3 kalipun sudah kupenuhi, fotokopi draft 4 kali juga udah. Lah, njeketek, J-4 dosen pembimbingku minta aku cari dosen lain untuk jadi co.pembimbingku. Glodak!!! Emang sih, aku dan beberapa temanku mengakui kalo dosen pembimbingku emang kurang kompeten dengan bidang skripsiku. Dosen pembimbingku ahli di bidang di industri sedangkan skripsiku di bidang sosial. Beberapa kali bimbinganpun dosenku cuma iya-iya, bagus-bagus dan langsung tanda tangan.

Maka segeralah aku menuju Koordinator TA (korta) untuk melaporkan hal ini, tentunya atas permintaan dosen pembimbingku. Tau apa jawab korta? “Ya nggak tau, itu bukan urusan saya, itu urusan kamu dan dosen pembimbingmu”. Dieng…aku sempat shock tapi untung otakku masih idup. Bukan saatnya untuk shock, pikirku saat itu maka secepat kilat aku menuju ruang dosen yang direkomendasikan jadi co.pembimbing oleh pembimbingku. Beruntung, beliaunya sedang ada di ruangan. Beliau bilang, “Harus melalui beberapa proses,mbak…!” dan seterusnya dst dst.

Co.pembimbing tak kudapatkan hari itu. Pembimbingku juga tak bisa kutemui siang itu. Formulir pembimbingan dah ditandatangani dosen pembimbing tapi tanda tangan co.pemb masih kosong. Sebenarnya untuk anak S1 gak butuh co.pemb. 4 fotokopi draft proposal dan formulir yang dah di-ttd-i pembimbing itu aja dah cukup memenuhi syarat untuk daftar seminar proposal minggu depan. Lantas??? Hah, aku tak mau ambil pusing.

M-5 akhirnya kedua persyaratan itu aku serahkan ke TU jurusan dan terdaftarlah aku untuk seminar proposal minggu depan. Urusan ntar diomelin pembimbing, korta dan calon co.pembimbingku yang belum beres dipikir ntar aja, yang penting draft dah terkumpul, masa mo gagal lagi gara2 masalah gini…. Hah, yang penting sementara bisa lega….Semoga besok baik2 saja dan bisa lancar seminar, biar bisa jalan skripsinya, beres, lulus kuliah, kembali ke rumah, ngeberesin rumah, nambah kerja, menyalurkan minat dan bakat, nambah penghasilan, nyekolahin adik, berbakti pada ortu, nikah, trus… loh loh, nglantur…..btw, semoga smua harapan itu terwujud, ^_^ AMIN………

Comments»

1. galihyonk - March 19, 2008

hoHOho,,
anggep aja TA itu angin, maka ia akan berhembus tanpa bekas trus menghilang dan ndak selesai-selesai.. ( bercanda2… :) )
SMANGAT ma TA-nya!!!!
Ingat orang tua pontang panting mencari duit untuk kuliah, kuliah selesai dulu baru nyari uang…
SMANGAT ya!!!
;)

2. nuha - March 28, 2008

–>>> Galihyonk
masalahnya, TA tu gak akan jalan kalo gak ada duitnya. Lha, kalo Ta gak selesai, nyari duitnya gak bisa lebih leluasa, hehe…So…tetep smangat cari duitnya n tetep smangat untuk secepatnya nyelesain TA. Tengkyu2