Kapan Giliran Kita? March 28, 2008
Posted by haSna- ^_^ in Kisah.trackback
Rintik hujan masih berjatuhan. Bau tanahnya tak begitu tercium. Tentu saja karena aku berada di ketinggian kurang lebih 10 meter di atas tanah, yup tepatnya di lantai 4. Dari situ aku bisa memandang sisi lain dari kampusku yang dulu lebih mirip rawa2. Dari ketinggian ini, bangunannya tampak lebih indah begitu pula kombinasi taman, sungai, lapangan olah raga dan sawah beserta genangan2 air seperti kolam menambah sejuk pemandangan siang itu. Apalagi langit yang menyelimutinya masih berawan abu-abu. Indah, tenang, sejuk, damai. Tapi tak seindah maupun sedamai hatiku.
Hampir seminggu aku berkecamuk dengan gedung ini. Naik turun dari lantai 2 di ruang dosen, lantai 3 di lab QC (Quality Control), lantai 4 di Ruang Baca dan Lab QC2, begitu setiap hari. Untuk melihat seminar teman2 seperjuangan namun tak seangkatan sebagai pengganti kuliah kolokium, maen2 ke ruang baca atau sekedar melihat jadwal seminar yang entah berapa kali berubah.
Kamis kemaren hari terakhir seminar proposal untuk periode 1. Aku juga sudah terdaftar dan memang sengaja daftar di periode 1 agar aku bisa dengan cepat menyelesaikan skripsi + sidangnya. Namun apa bisa dikata, dosen pembimbingku tak datang lagi sedangkan pengujiku tak mau memulai seminar kalau tak ada pembimbingnya.
Sudah kutelpon pembimbingku tapi tetap saja dia tak bisa datang, ada rapat, begitu juga penguji yang satunya. Belum sempat aku berkomentar, seorang dosen sudah bicara, “Ya, mereka gak bisa datang juga karena kepentingan ITS, bukan kepentingan pribadi. Mau gimana lagi. Cari lain waktu saja ya…” Hah, sudahlah. Di satu sisi aku menyayangkan pembatalan sepihak ini tapi di sisi lain mencoba mensyukuri bahwa aku diberi kesempatan lagi untuk memperbaiki proposal. Sementara beberapa temanku sudah melalui seminarnya tanpa di undur2, aku sepertinya akan semakin sibuk mencari ruangan dan jadwal yang pas untuk 2 dosen penguji dan pembimbingku yang super sibuk coz mereka adalah orang2 penting di ITS.
Semalam aku bermimpi. Ada dua jalan di hadapanku, jalan lurus nan mudah dan satunya tebing tinggi nan curam. Aku tak diberi kesempatan memilih dan harus melalui tebing itu. Tentu saja sulit sekali melaluinya bahkan aku harus mempertaruhkan nyawaku karena sempat terjatuh. Tapi, setara dengan perjuangannya. Aku mendapatkan akhir yang indah, hasilnya lebih memuaskan apalagi teringat bahwa ada orang yang menolongku saat terjatuh dan… Hihi, jadi senyum2 sendiri ingat mimpi semalam dan kejadian beberapa tahun lalu.
Yah, aku akan selalu menantikan akhir yang indah. Aku akan mendapatkan giliran untuk menikmati hasil yang memukau. Yang sedang merasa selalu mendapatkan kesulitan dibandingkan orang lain, tenanglah. Ada kebahagian di balik itu semua. Kita akan dapat giliran untuk tertawa lepas, berteriak kencang dan melalui sesuatu dengan begitu mudahnya atau bahkan menerima kejutan2 tak terduga, kalau bukan sekarang ya besok, kalau bukan untuk hal ini ya pasti untuk hal yang lain, yang mengantar kita pada penyadaran hingga terlontar pernyataan “Akulah orang yang paling beruntung. Semuanya tidak akan pernah sia-sia. Selalu ada makna di balik semua peristiwa dan itu indah.” Seutas senyum pun mengembang dengan pancaran mata penuh semangat untuk melalui tantangan-tantangan selanjutnya. ^_^
ngga usah dipikir…
*siasat setan*
->>> Male…
Halah, ibas ibis. Hehe…
sabar.. sabar ya mbak..
heHEhe,,
->>> galih…
iyo..iyo,,,, suwun..matorsakalangkong…