Jeritan Rakyat…(2) April 16, 2008
Posted by haSna- ^_^ in Kisah.trackback
Setelah lebih dari 10penumpang memenuhi kendaraan umum berwarna kuning ini maka melajulah empat rodanya menempuh perjalanan panjang, kurang lebih satu jam untuk sampai ke pangkalan berikutnya yaitu Keputih, desa perjuangan. Aku mau menyamankan diri agar lelah sebelum perjalanan ini bisa sedikit hilang. Tak sampai sepuluh detik (kira-kira) sejak memutar kemudi, pak supir membuka mulut, mengeluhkan sesuatu. Seorang ibu yang duduk tepat di belakang sopir menanggapinya. Percakapan keduanya menarik minatku untuk mendengarkannya. Jika percakapan mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini, (S=supir, I=Ibu)
S :”Lho, rombong bakso ini kok masih ada?”
I :”Iya dek, buat sampeyan kalo makan. Masak supir2 itu mau makan ke restoran.”
S :”Kalo semuanya digusur, mau tinggal dimana mereka..” Katanya sambil memandang ke sederet orang yang sibuk dengan aktivitasnya di sebuah -yang seharusnya- tempat parkir, ditepi sungai, dekat JMP. “Di Madiun nggak ada orang-orang tinggal di pinggiran.”
I :”Halah dek, lha di Madiun penduduknya sedikit. Semua orang punya kerjaan, ada tanah nganggur tinggal ditanami. Disini mana ada tanah yang bisa digarap. Mau makan juga gak bingung. Kalo cuma beras nggak pake beli. Disini semuanya butuh uang.”
S :”Ibu aslinya mana?”
I :”Ponorogo. Ponorogo pinggiran yang dekat Pacitan.” Dia melanjutkan, “Padahal dek, kita yang jualan di depan JMP itu juga bayar karcis setiap hari. Ya kerjaannya orang-orang pemerintahan kayak gitu, kalo ada masalah kayak gini yang nariki karcis ngilang, sembunyi.”
S :”Makanya, enakan dikasih umur pendek biar dosanya gak banyak-banyak.”
I :”Ya kalau itu kuasanya Allah to, dek… Masa kita mau nolak kalau di kasih umur panjang.”
Mikrolet, nama lain lyn, masih terus melaju, melewati gedung pemeritahan propinsi di sekitar tugu pahlawan.
I :”Kita ini rakyat kecil selalu diremehkan. Mentang-mentang gak bayar pajak, kalo mbayar cuma sedikit. Yang di’openi’ cuma pejabat-pejabat dan pengusaha besar yang pajaknya juga besar.”
Aku masih menikmati pembicaraan mereka kala kendaraan melaju di sebuah jalan yang cukup lebar dengan taman yang mulai menguning di samping kanannya, yang lantas mengantar kita untuk melalui mantan pasar gembong.
I :”PEMERINTAH ITU SEBENARNYA MAU APA?”
S :”Membuat Surabaya Bersih dan Hijau, bu…” Sahut sang sopir tenang.
I :”Iya, semua dibersihkan. Pedagang kaki lima semuanya diusir malah dibuat taman. Orang kok gak boleh kerja. Kalo nggak kerja kita mau makan dari mana? Pemerintah juga gak ngasih apa-apa.”
Aku jadi mikir. Apa iya taman-taman kota yang dibuat dalam rangka penghijauan bisa mengatasi polusi di Surabaya dibandingkan dengan gedung-gedung atau mall-mall yang juga lebih marak lagi pembangunannya?
S :”Kalo Jamannya Gus Dur, pedagang kaki lima dilindungi.”
I :”Oh iya…enak kalo Gus Dur.”
S :”Tapi jamannya Gus Dur jalanan jadi macet…”
I :”Jalan macet gampang, tinggal bikin jalan lagi.” (Dienk!!…Rasa empatiku mengalahkan hasratku untuk tersenyum mendengar kalimat ini)
I :”Bambang DH juga. Dulu waktu kampanye, rakyat kecil disayang-sayang sekarang sudah punya jabatan lupa sama orang kecil.”
I :”Hh…mandar (semoga) pemerintah yang gitu kalo lewat jalan raya ini kecelakaan, biar tau rasa.” (Ups, sadis men…!! SEgitukah emosinya sampai mengutuk-ngutuk??)
Di kawasan kapas krampung, tepatnya di depan bekas pasar tradisional yang kini bangunannya menjulang tinggi dengan berbagai warna dan… Sang ibu turun dari lyn.
S :”Yang banyak doanya bu, biar slamet.”
I :”Iyo, wong cilik sing kuat ndungane wae.”
S :”Ati-ati bu.”
Aku belum mengajukan pertanyaan, tatapanku masih mengacu pada langkah ibu tadi, tapi si sopir sudah berkata, “Ibu itu pedagang kaki lima. Dua kios-nya sama-sama kena obrak. Emosinya sedang meledak-ledak.” Rupanya si sopir sangat mengerti pertanyaan yang bersembunyi di balik eskpresi wajahku.
Beberapa hari yang lalu … ada juga kisah seperti ini.
Di hari lain… Usai memberikan beberapa lembar uang kepada seorang bapak (tukang) sebagai upah kerjanya selama dua hari untuk renovasi laundrynya temenku, sang bapak tukang minta dua buah jerigen, untuk tempat minyak tanah katanya. Sementara sang bapak mengikat dua buah jerigen dengan rafia, aku bertanya, “Bapak nggak pake LPG?”. Dia menjawab, “Bapak nggak punya LPG. Nggak dapat jatah, mbak..”
Dia melanjutkan keluh kesahnya, “PEMERINTAH ITU MAUNYA APA? Di suruh ganti ke LPG tapi LPG susah dicari dan tambah mahal.”
Hhh…ada yang mau komentar dari tiga kisah di atas?
takdir..!
[...] kehidupan bangsa, sebenarnya apa sih bangsa itu itu atau siapa sih bangsa itu. Kalau melihat cerita – cerita tentang penderitaan rakyat untuk kemajuan sebuah daerah atau negara aku tambah bingung sebenarnya [...]
->>> scouteng
ridkat….
to complicated yah? hehe.. lam kenal..
no comment,has..
tp Cuma ngasih unek2.. (sama dg coment dunk,hihi)
waiya..
huuh, masih banyak lg kejadian yang kaya tersebut, di terminal, di stasiun KA,, di Pasar, dll… buanyak wess..
semua mengarah kpd suatu ketidakadilan (manusiawi bgt jika si ibu, yg rakyat mkir gtu..)
dengan hdup yg smakin menantang,
ketidakadilan terjadian jika perlakuan dan kenyataan yang didapatkan dirasa tidak sesuai dengan perasaan kita, antara orang yang di obrak dg pemkot, antara yg mrsa LPG mahal dg Pemrintah..
(utk mengatakan salah benar,ga boleh asal ceplos sesuai hati dan pikiran kita, namun perlu penelitian, data dan informasi, ada yang bilang para PKL dan penghuni emperan jln yg di usir ntu, punya motor, TV 29″,ada pula yg emang ga puny apa2.. nah ini yang perlu ati2 dlm bertindak dan memperlakukan mreka.. bla bla bla.. dst aq ga bs byk coment ttg ni)
..
yang jelas ada nilai dan prinsip hidup yang belum di pegang, adil, peduli dan tanggung jawab dalam bersosial..
Belum lagi hal-hal kecil lain yang kita alami sehari-hari seperti keruwetan di jalan mau pun di pekerjaan. Tidak ada tenggang rasa & peduli. Yang ada hanya keinginan untuk dilayani tanpa mau melayani, dan ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang ada hanya emosi semata di hati. Tidak ada rasa saling percaya karena setiap orang sudah saling mengecewakan, mengikis semuanya. Letih dan luka akhirnya menimbulkan rasa frustrasi dan galau hati, dan kita terus berjalan menuju kelam.
najib – statistics
masih berjuang utk teruss berguna bagi semua..
email :
najebbe21_stats03@yahoo.com
->>> manis asem asin…
salam kenal juga deh….
->>> najeb
wow…panjang bangets (apanya…???) wah, kayaknya kamu bakat bikin blog sendiri deh. Ayo ngeblog!!! Wakaka….
mo komentar kisah LPG aja,
mo ganti keminyak mahal, masak harga minyak tanah lebih mahal dari pada premium… masak mo masak pake premium,
btw bisa gk yah, bahaya gak ya
->>> ketela
coba aja, ntar kalo kamu sukses bakal aku rekomendasikan ke orang laen…hehe…
jeritan rakyat belum tentu di dengar.. tapi jeritan tikus berdasi.,. pasti cepat solusinya.. kenapa yach…kalau jeritan hati bagaimana donk… waduh jadi mikir deh… kabur aja deh..
->>> franya
ups, kamu ketangkep, jangan kabur lagi ya….ayo dipake seragam n nomor napinya…hehe…
ya jelas orang berdasi lebih didengar lha wong lebih dekat n sering rapat bareng, kalo jeritan rakyat kan masih lewat perantara n bisa jadi setelah sampe ke pihak yang dituju, jeritannya ter-edit
jeritan hati? gak usah mimpi deh….lha yang terdengar suaranya aja gak direspon gimana dengan yang gak kedengeran…tau lagi kalo “orang-orang itu” punya ilmu kebatinan, hehe….