Dia ke Jakarta May 17, 2008
Posted by haSna- ^_^ in Kisah.trackback
Jakarta memang kota impian. Pertama kali sampai ke kota ini pas SE (Study Excursie sama temen2 statistik, Juli 2006 lalu), aku langsung terpesona sambil bergumam ‘Suatu saat, aku ingin kembali ke Kota ini lagi, menikmati kemegahannya, menikmati kesibukan paginya, menikmati apa aja…… yang penting ke Jakarta lagi.’
Siang tadi dia menelponku. Aku yang ketiduran pas lagi belajar buat bahan skripsi, jelas kaget denger dia mau ke Jakarta siang itu juga dan mungkin gak pulang lagi kalo dia lolos tes alias langsung ke Korea.
Air mata sempat menetes. Adikku, Faizol. Mungkin dia memang tidak seberuntung aku, bisa merasakan pendidikan di sekolah2 terbaik bahkan sampe kuliah. Selulusnya dari sebuah MA di Bangkalan, sekeluarnya dari Pondok Kebon Anyar, setelah beberapa bulan nganggur, aku mengajaknya ke Surabaya. Mungkin teman2ku saat itu berpikir kalo sebagai kakak, aku terlalu mengarahkan adikku, padahal adikku laki-laki, dah besar lagi, dah saatnya bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.
Tapi sebenarnya bukan untuk itu. Aku hanya ingin memperkenalkan dia pada dunia baru. Dunia kampus, aku akan biarkan dia memilih apa saja setelah dia merasakan kehidupan di lingkungan kampus. Dari pada dia harus berada di kampung dengan kondisi pemuda2nya yang bisa dibilang minat bekerjanya sangat kecil, gak imbang sama keinginan mereka untuk bisa pegang HP dan sepeda motor keren.
Waktu itu aku cuma ingin memberi kesempatan pada dia untuk mengenal komputer dengan menggantikan aku kerja di rental komputer. Alhamdulillah, selama kurang lebih satu bulan sudah bisa menumbuhkan semangatnya untuk belajar. Dia minta dipinjamkan buku Photoshop dan aku dapatkan buku dari temanku. Saat itu dia juga sempat berkenalan dengan seorang maba ITS jurusan Tekfis yang memang di ITS lagi rame2nya pengkaderan. Dia jadi tau gimana kehidupan kampus ITS.
Untuk tempat tinggalnya selama di Surabaya, aku menitipkannya di markas PMII. Maksudku, biar bisa terpengaruh sisi agama temen2 PMII dan hatinya bisa terbuka, agar dia bisa rajin sholat (untuk tahap awal, ini aja dah cukup), bisa lebih memahami agama karena kalopun hampir 7 tahun mondok, kehidupan para santri di sana jauh dari apa yang seharusnya dilakukan para santri, seolah di sana adalah tempat buangan anak2 bandel yang orang tuanya sendiri dah males ngurus, tapi sisi baik dari mondok itu, adikku jadi lebih bisa mandiri, bisa mandiri mendahului aku, ^_^ .
Sudah itu saja, selanjutnya aku memberi kebebasan padanya untuk memilih. Kalo mau kuliah ya aku bersedia bantu (Yang aku tau dia punya keinginan untuk kuliah perhotelan coz dia mau mengikuti jejak pamannya. Waktu itu sepeda motornya dah dijual, rencana awal mo dipake kuliah tapi karena ada kebutuhan lain, akhirnya uang itu abis bukan dipake untuk kuliah). Kalo mau kerja aku juga mau bantu. Setelah sebulan di Surabaya, akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Gresik. Bukan ke Gresik, ke Madura karena dia gak pernah betah tinggal di Gresik. Beberapa saat kemudian dia datang lagi padaku, katanya mau cari kerja. Akhirnya aku bantu cari lowongan dan ngirim lamaran ke beberapa tempat. Aku senang Hem yang aku belikan di Bandung pas SE dulu, bisa berguna untuk dia.
Ternyata memang sulit merangkap tugas sebagai bapak, ibu sekaligus kakak. Apalagi tanpa adanya kebersamaan. Sejak smp aku gak serumah lagi sama adik, dia mondok di Bangkalan. Alhasil, setelah kami tinggal di Surabaya, aku harus belajar lagi dari awal untuk bisa memahami dia dan keinginan2nya. Mendidik itu sangat membutuhkan kebersamaan. Betul?
Lamaran kerjanya di Surabaya tidak berkabar. Akhirnya dia ke Gresik, diajak temannya untuk kerja di pabrik. Alhamdulillah diterima, kerja di pabrik mi sedaap. Kerjanya full, satu bulan cuma libur sekali. Seminggu sift malam, seminggu sift siang, seminggu sift pagi, begitulah yang dia jalani selama enam bulan masa kontrak. Nggak bisa mbolos, ijin aja susah padahal pada masa itu ada kakekku yang meninggal. Aku juga pernah nganter dia bikin surat keterangan sakit tapi gak sukses karena ketahuan mbohongi (hehe….kami emang gak bakat bohong). Asmanya yang selama ada di Madura gak pernah kambuh, selama kerja di pabrik itu malah sering kambuh. Keadaan ini membuat aku amat sangat mendukung sekali keinginannya untuk tidak memperpanjang kontrak kerjanya di pabrik itu.
Adek….aku sempat terenyuh saat dia bercerita tentang mimpi-mimpinya untuk bisa memperbaiki kehidupan keluarga kami. Dan katanya, itu gak bisa dicapai kalau hanya mengandalkan pendapatan dari menjadi buruh pabrik. Dia punya keinginan besar untuk bisa kerja di Luar Negeri karena gajinya lumayan.
Mendengar keinginannya itu aku serasa…. rasanya udah kapok punya keluarga yang jadi TKI, inget bagaimana bapakku, kakek2ku juga paman2ku yang kerja di sana. Kalo menurutku sih gak papa dapet gaji yang nggak besar2 banget asal bisa kumpul sama keluarga, tapi keinginannya sudah cukup besar hingga beberapa bulan lalu dia sudah menjalani serangkaian tes untuk kerja di Korea. Semua prosesnya dibantu oleh paman. Nenekku pun buanting tulang untuk bisa memenuhi biaya yang dibutuhkan.
Hari ini, dia berangkat ke Jakarta. Untuk menjalani tes penentuan dia bisa berangkat ke Korea atau tidak. Adik, maaf aku tidak punya cukup kesempatan, cukup waktu dan dana untuk bisa membantumu. Bahkan untuk sekedar mengantar keberangkatanmu. Aku cuma punya doa yang setulus hati dan sepenuh jiwa aku panjatkan padaNya, untukmu, untuk adik2ku.
Ya Allah, jika apa yang ada dihadapan mereka dan mereka hadapi saat ini adalah jalan terbaik bagi mereka untuk meraih kesuksesan dunia akhirat maka mudahkan dan sampaikanlah mereka pada jalan itu, tentunya dengan perlindungan dariMu agar setiap langkah mereka bernilai ibadah yang bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan mereka padaMu. Amin….
Akhirnya, sebait kalimat kukirimkan pada adikku tersayang lewat sms mengiringi keberagkatannya menuju Jakarta, “Ati2 ya dek, jaga diri…sholat yg rajin,mhn prlndngn,slalu ingt yg drumah,slalu brdoa,jgn mudah menyerah…ati2 djalan,ati2 kl dh smpe sana.smoga sukses..!!!” Amin….
Mungkin baru itu saja yang bisa aku lakukan untuk mewujudkan rasa sayangku. Adik2ku, Udin dan Faizol, aku sayang kalian…….. ^_^
to tuiitt…
jadi keinget waktu saya lagi kacau…
doamu sungguh sesuatu yang berharga baginya…semoga Alloh mengabulkan segala doamu..amiin
->>> Male…….
Bukannya kamu kacaunya tiap saat ya??? Hehehe….
->>> Achoy
Amin……………
hoHOho,,
Kakak yang baik… ^_^
membantu tidak harus dengan materi mbak, membimbing dan memberikan arahan juga termasuk “membantu” yang tak ternilai harganya…
->>> galihyonk
yup, thenks adek…