jump to navigation

JENUH… September 8, 2008

Posted by haSna- ^_^ in Kisah.
trackback

Nomor itu menghubungi HPku lagi. Tak seperti sebelumnya, kali ini tak sampai 3 menit kami bicara lewat telpon. Dia hanya mengabarkan kehadirannya esok di tempatku dan satu kalimat pembuka yang akan jadi bahan pembicaraan kami esok harinya. Sore itu, dia datang juga. Kulihat raut wajah yang mungkin beberapa minggu lalu juga sempat menghiasi wajahku. Kudengarkan dia bercerita. Cerita yang mampu membawaku menyelam pada kisahku sendiri beberapa saat lalu. Ada satu kata penting yang kutangkap yang jadi tema dari pembicaraan yang tak terlalu panjang itu, ‘Jenuh’. Aku tak bisa berkomentar banyak, hanya berekspresi empati secukupnya hingga dia beranjak pulang. Aku tahu, sebenarnya hal ini tak mudah dilalui begitu saja olehnya karena butuh sebuah komunikasi agar kejenuhan itu bisa diatasi ketika memang ada kekurangan dari satu pihak, untuk bisa sama-sama saling memperbaiki diri.

Ceritanya masih terngiang hingga beberapa jam kemudian kukirim sebuah pesan untuknya yang mungkin bisa sejenak melepaskan dia dari beban yang dialami saat itu, “Jenuh itu manusiawi. Maka biarkan dia mengatasinya dengan caranya sendiri yang mungkin tak bisa diraih dengan tangan kita sendiri. Jika Cinta itu masih ada, alirkan saja lewat doa agar Tuhan selalu menjaganya. Lantas, selebihnya kita berserah diri padaNya.”

Kalimat yang kurasakan sama dengan kalimat yang mungkin akan disampaikan oleh seorang ibu kepada anaknya, seorang kakak kepada adiknya, atau seorang kekasih kepada orang yang disayanginya, ketika masih ada rasa sayang yang ingin diwujudkan tapi karena keterbatasan gerak, ruang, waktu dan perannya, kasih itu tak bisa terwujud sepenuhnya. Mungkin tangannya tak lagi mampu meraih yang disayangi untuk keluar dari gejolak hidup yang kadang membebani. Ketika sudah tak mampu berucap kata yang bisa menguatkan semangatnya untuk melalui hidup seberapa besarpun rintangan yang datang. Ketika raganya tak mampu lagi hadir disisinya, setiap hari, setiap waktu, memberi senyum manis dan tatapan tulus untuk sekedar menyejukkan hati yang dikasihi.

Ya, dengan segala keterbatasan itu, mungkin hanya doa yang bisa terpanjat, keikhlasan melepas sembari berujar, “Berkelanalah sejauh apapun kamu ingin untuk tahu dunia luar tapi jangan segan untuk pulang ketika tak lagi kamu temukan sandaran kokoh untuk tuntaskan lelah. Aku masih disini, menantimu pulang dan menerimamu, entah kamu dalam keadaan lelah tak terkira dalam kekalahan ataupun dengan senyum bahagia atas keberhasilanmu, untuk merangkai lagi kebersamaan dan mewujudkan rasa sayang dengan seutuhnya.”

Malam itu juga, satu hati mungkin terobati, tapi masih butuh satu hati lagi untuk bisa menyeimbangkannya, hingga terrangkai sebait kata untuk hati yang lain itu, “Cinta mungkin tak datang bersama logika. Rasa sayangpun bisa bertahan meski tanpa kebersamaan. Ada mimpi yang menguatkan seorang kekasih untuk tetap menanti. Aku tahu dia. Kamu tahu aku dan dia. Aku tak bisa menolak apa yang sedang terjadi tapi aku juga tak kuasa mengingkari bahwa cinta kasihku masih tetap tersaji untuknya, apapun keadaannya. Titip dia kawan… “

Kadang manusia memang butuh cobaan berat dulu untuk tahu makna tentang hidup, tentang keberadaannya, tentang pentingnya kehadiran orang lain di sekitarnya, tentang bagaimana bersikap dan memahami, juga tentang tahapan cinta yang mengantar kita pada cinta sejati untukNya. ^_^

Selamat berjuang kawan, selamat menemukan Cinta … !

Comments»

1. mybenjeng - September 9, 2008

smg cpt nikah, biar selalu ada teman sharing setiap saat.:D

2. haSna- ^_^ - September 10, 2008

->>> my benjeng
maunya juga gitu…hehehe…

3. scouteng - September 16, 2008

lulus dulu mbak baru nikah..
hiks, dia pergi ya, turut bersedih

4. haSna- ^_^ - September 17, 2008

->>> scouteng
Siapapun yang menyentuh hatiku, tak ada yang sepenuhnya benar-benar pergi. Kalopun pergi, itu mungkin hanya raganya. Sejauh apapun jarak mereka dari ragaku, bahkan yang sudah tak berada di dunia inipun, mereka tak pernah pergi dariku dan tak pernah kuijinkan beranjak selamanya. Masih kubiarkan kenangan indah, pelajaran2 hidup dan nasehat mereka bersemayam di hati dan otak, yang akan selalu mengiringi langkahku dan itupun selalu mengingatkan aku pada mereka. Mereka ada di sini, di suatu tempat di hatiku yang mungkin tak bisa kamu rasakan, dan siapapun nanti akan tinggal di sini juga kalau memang bisa membuat hatiku terketuk dan menemukan jalan padaNya.

5. scouteng - September 22, 2008

wiuh.. tinggi banget bahsanya, kayak nagabonar..