Tengah Malam Pusat Kota September 14, 2008
Posted by haSna- ^_^ in Kisah.trackback
Sekeping dvd baru aja aku masukin ke dvd-room-nya laptop temenku. Belum sempat filmnya muncul, aku sudah digupuhi, “Ayo Has, kita berangkat sekarang juga!” Aku yang lagi berkostum mo tidur jelas gupuh n ngambil baju seadanya di gantungan belakang pintu. Biar gak kliatan seadanya bgt n nantinya g mecing sm orang2 skitarku maka kulapisi dengan jaket warna krem bertuliskan ‘hanjin shipping’ yg biasa aku pake.
Yang ngajak dah tergopoh-gopoh, dia masukkan STNK motor ke saku belakang jeans biruku sambil berkata, “Nanti kamu nunggu di parkiran aja yah…” “Heeh” jawabku sambil memasukkan sebuah buku kecil ke dalam tas yang akan aku bawa, bawaan wajib buat menikmati kesendirian nantinya. Ini salah satu cara untuk menikmati kesendirian yang mungkin bagi beberapa orang situasi ini sangatlah membosankan. “Jam di kamar menunjukkan pukul 21.55, berarti 5 menit lagi pintu kos akan ditutup. Apapun, itu urusan nanti, sekarang juga dengan kecepatan tinggi meluncur ke Cafe Tenda depan monkasel.
Wuss… cukup kencang juga sepeda motor bermerk kawasaki warna merah ini dikendarai oleh seorang wanita yang secara fisik jauh lebih kecil dari aku meski usianya dua tahun di atasku. Tak lama, sampai jugalah kami di tempat parkir cafe ini. Belum juga kartu parkir dikasihkan, yang nyetir tadi nih dah bergegas turun dan memintaku markirin sepeda motornya. Aku cuma melongo dan terheran-heran lalu kuparkir motor, menghadap sebuah taman yang berbatasan langsung dengan sebuah sungai, keduanya dibatasi oleh pagar besi. Aliran tenang airnya, dan hijaunya taman yang disinari lampu indah membuatku memutuskan untuk menunggu di atas motor saja. Kukeluarkan HP dan otak-atik games yang ada di dalamnya.
Setengah jam berlalu, beberapa orang berlalu lalang. Semalam ini, ternyata masih banyak juga yang baru datang, berpasang-pasangan cewek cowok ato rame2. Cuma bergumam, anak cewek sapa aja nih semalam ini masih nongkrong di cafe (hehe….kayak aku nggak aja, ya jelas nggak lha wong aku nongkrong diparkiran). Ku lihat di belakangku ada dua buah ayunan. Yang satu sedang diisi oleh sepasang kekasih (sepertinya), satunya kosong tapi nggak asik cz tak jauh dari situ ada meja kafe dengan beberapa orang sedang bercengkrama. Kalo aku duduk disana, jelas nggak nyaman. Maka, terpaksa nunggu di atas motor lagi.
Tak lama, ayunan itu kosong. Maka akupun beralih ke sana. Duduk menghadap taman yang kali ini berbatasan dengan tembok, tanamannya pun lebih besar. Kusandarkan tubuh di sandaran ayunan itu, kutengadahkan kepala, bulan terang dan bintang menghiasi langit hitam malam itu. Kedua kakiku kuluruskan dan kusandarkan pada kursi ayunan di depannya. Angin bertiup sepoi. Radio HP kunyalakan, ku’turn off speaker’ lalu menikmati lagunya. Hm… PW puol meski nyamuknya sesekali nggigit kaki. Lebih PW lagi andai musiknya bukan dari radio tapi petikan gitar dengan lagu Pelukis Malam (co cuit deh…).
Bosan bersenandung dan bernyanyi lirih, kukeluarkan sebuah buku kecil yang bertuliskan ’saatnya tampil beda’, bukan buku bacaan tapi tempat aku menuangkan beberapa rencana dan cita-cita hidup. Kubaca lagi sambil menambahkan beberapa tulisan di halaman-halaman kosongnya. Cukup lama juga situasi ini berlangsung hingga lagu di radioku terhenti berganti nada dering, ada telpon masuk.
“Hallo, kamu dimana, Has?” Suara lelaki yang kukenal di seberang telpon sono.
“Di parkiran”, jawabku singkat sambil tolah toleh.
“Dari tadi di situ terus?”
“Hooh.”
“Nggak tau kalo Dahlia-bukan nama sebenarnya- pingsan?”
“Hah?”
“Sekarang di klinik pusura, depan mitra. Kamu kesini sekarang”
“Yup”
Lha la….kok bisa-bisanya aku nggak tau apa-apa. Keasikan berimajinasi sambil ndengerin musik nih. Kukendarai motor dan setelah sampe tukang parkir aku nanya, “Mas, tadi ada orang pingsan ta?” Yang ditanya njawab “Iya, tadi dah dibawa pake taksi.” “Makasih…” Pamitku seraya meluncur ke klinik yang disebut tadi, sambil masih terheran-heran. Ni yang heng hong aku ato sapa ya… sampe kejadian gini gak tau… hehehe…
Sesampainya di lokasi, aku melihat sebuah taksi terparkir di depan klinik. Mas yang telpon aku tadi langsung menghampiriku sambil menyodorkan sebungkus pil. Dia minta tolong aku untuk ngasih obat ke ‘D’ tadi yang dah sadar dari pingsannya tapi masih lemes. Kuterima lalu mendekat ke taksi. Di dalamnya ada seorang cewek tak kukenal tapi sudah bisa kuduga siapa dia. Disebelahnya ‘D’ terduduk lemah. Aku sedang males ngrayu orang minum obat jadi kukasih saja obat itu ke… -anggap saja namanya ‘P’- yang setelah memalui proses merayu dan memaksa sekian lama, diminum juga obatnya oleh ‘D’
Sesaat, ‘D’ berontak dan memaksakan diri keluar dari taksi. Baru aja berdiri dah pingsan lagi. Aduh mak…repot juga. Dengan dibopong oleh mas… sebut saja ‘Y’, dengan bantuan dari ‘P’ dan aba-aba dari aku (kompak deh), dimasukkan lagilah sosok mungil itu ke dalam taksi. Yang pingsan kemudian sadar dan berusaha berontak lagi. Kuminta ‘Y’ di dalam saja menenangkan ‘D’ dan akupun ngajak ngobrol ‘P’ untuk mencairkan suasana.
Bukan ngobrol tentang kejadian barusan cz aku wegah ngobrol itu dan sudah kupastikan kalo ‘P’ juga bakalan kesel kalo ngobrolin itu. Hm…ngobrol tentang kerjaan. Aku duduk di atas motor yang diparkir nggak jauh dari taksi tadi. Berbagai pertanyaan kuajukan, nyerempet2 eh sapa tau ada lowongan kerja n posisinya cocok buat aku di tempat kerjanya ‘P’. Bahasannya nggak jauh-jauh dari urusan riset dan statistik, yang kebetulan emang dipegang oleh ‘P’ yang kerja di bagian marketing sebuah perusahaan pelayaran di daerah Perak sono.
Lebih dari setengah jam berlalu, akupun kehabisan bahan pembicaraan. ‘P’ kulihat juga dah lelah berdiri dan mondar-mandir di situ. Pak Supir taksi yang duduk di belakang kemudinya, sambil nyabut-nyabut jenggotnya, raut wajahnya menyiratkan telah sampai pada titik jenuh jua menunggu dua sejoli yang sedang ‘melobi-lobi’ yang tak lupa dibumbui deraian air mata keduanya di belakangnya. Hehe… pemandangan yang bikin aku ketawa ketiwi (tapi diempet n ketawa dalam ati aja, nggak enak kalo diliat orang2 itu).
Akhirnya….. ‘Y’ keluar juga. Aku menghampiri, “Mending pulang ke kos aja mas. Kalian bertiga naik taksi, motor sampeyan tinggal sini dulu, aku naek motornya ‘D’..” Yang diajak ngomong setuju dan pukul setangah satu itu juga kami beranjak dari klinik pusura. Perjalanan yang dingin. Aku nggak ngikuti taksi, nggak tau kami terpisah dimana. Akupun melalui jalan yang biasanya aku lewati. Tengah malam gini, lampu ‘bang-jo’ di kota ini tak jua berhenti berganti warna, nggak kayak di kota lain yang kalo lewat jam23 lampunya dah berwarna kuning terus.
Taksi itu lebih dulu sampai di depan kos. Pintu kos jelas aja dah dikunci. Pukul 01.00, aku telpon kos dan alhamdulillah ada yang ngangkat. Untung pas ramadhan, jadi jam segini Bapak Kos sudah terjaga untuk nyiapin masakan yang akan dijual waktu sahur nanti. Beliau yang kemudian memberikan kunci pintu gerbang lewat jendela. ‘D’ dibopong mendekati pintu gerbang. Rupanya si ‘D’ berontak lagi nggak mau masuk ke kos padahal wajahnya dan pucet, lemes n bolak balik jatuh. Dia minta pulang ke rumahnya di sebuah kota yang kalo pake sepeda motor bisa ditempuh dalam waktu 2 jam. Rupanya pula, ‘P’ juga di puncak kekesalannya. Dari tadi dia dah ngliatin jam dan mengeluh ‘kalo gini aku bisa nggak pulang-pulang…..’ Dengan ekspresi kesal, akhirnya dia pamit dan langsung naik taksi tadi, pulang sendiri. “Iya, mbak. Ati-ati.” Kulihat taksi itu berlalu. —–
Aku duduk di tepi jembatan sungai kecil, menatap jalanan dari arah barat menunggu taksi yang tadi kupesan untuk nganter ‘D’. Orang-orang di sekitar jalan rupanya masih terpesona sama kejadian tadi, beberapa orang menyempatkan curi-curi pandang (kayaknya….hehe). Sekitar 5 meter di belakangku, ‘Y’ menyangga tubuh ‘D’ yang dah teler karena obat penenang tadi. Masih terdengar lirih pembicaraan mereka di sela sunyi malam dan koyaknya hati, mungkin….
Ceritanya…. ‘D’ dan ‘Y’ nih dah 3 tahun pacaran dan ini adalah kali ke-3 ‘D’ mergokin ‘Y’ hm…. yang disebutnya ’selingkuh’ sama ‘P’ tadi. Di sini, aku cuma mengabulkan permintaan ‘D’ yang minta tolong ditemani menemui pacarnya lagi kencan sama ‘P’ yang sejak sesiang tadi pertemuan mereka emang dah direncanakan oleh ‘D’ dan ‘P’. Aku sih mo netral aja… tetap bersikap baik n biasa sama ‘D’, juga sama ‘Y’ termasuk ‘P’ yang posisinya saat itu sebagai orang ketiga (yang kebanyakan kalo dalam persoalan kayak gini dicap sebagai perusak). Ya iyalah… emang aku nggak ada urusan sm masalah mereka… Lagian… aku juga nggak abis pikir sama tiga orang ini… segitunya banget mo ambil pusing ama yang namanya pacaran… hehehe… Nggak dink….
Pada dasarnya, aku mencoba kalem aja menjalani peran ini, nggak terlalu banyak ikut campur baik secara langsung maupun secara emosi. Biasanya, kalo tau temen ceweknya diperlakuin kayak gini, kebanyakan si temen ikut bersimpati secara emosi sampe memaki-maki si cowok ato beranggapan yang bukan-bukan sama si orang ketiga yang bisa makin mengobarkan api emosi temennya sendiri. Coba ngambil hikmah aja dari pengalaman orang lain…. kira-kira, gimana sih biar kita nggak terjerumus dalam permasalahan dan rasa sakit yang sama yang menurutku amat sangat banyak menyita tenaga, waktu dan dana (biasanya)… Padahal menurutku belum saatnya pengorbanan seperti itu dilakukan dalam status demikian. Yang jelas, nggak mau toh kejadian sepeti ini menimpa diri sendiri juga….?
beneran ta gak pusing ama yang namanya …..?
->>> scouteng
Pusing…? Hm… sudah lupa tuh… Kan udah minum Pana**l ,hehehe…