Lelaki Ke Empat, Sebuah Kenangan April 17, 2009
Posted by haSna- ^_^ in Family.trackback
Kuambil sebuah mukenah untuk nenekku di kamar sebelah musholla keluarga. Kamar yang sudah bertahun-tahun tak kumasuki. Tatapanku terhenti pada sekumpulan foto di ujung dinding. Usai kuberikan mukenah pada nenekku, aku memasuki kamar itu lagi. Dua buah foto hitam putih berukuran 3R masing-masing terbingkai rapi pada sebuah pigora coklat. Mungkin foto ini diambil semasa SMP dan SMAnya. Di antara dua foto itu terpajang sebuah ijazah yang menerangkan bahwa pemiliknya dengan nama Ach. Syafi’i telah berhasil menamatkan studi Al-Quran di Musholla Tarbiyatul Quran Al-Hidayah, Sukorejo, Situbondo mulai Februari 1989 sampai Juni 1991. Sebuah prestasi sangat mengagumkan bagi seorang pemuda dari desa pedalaman seperti ini, tentu pula membanggakan bagi orang tua, keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Aku berpindah ke dinding sebelah lain. Banyak tempelan mulai dari poster Wali Songo dan berbagai macam ulama yang tak kukenal satu per satu. Di dinding bagian bawah, tertempel sebuah tulisan tangan di atas kertas. Isinya tentang pentingnya melakukan sholat lima waktu. Aku membacanya, dan sebuah pengetahuan lagi memasuki rongga otakku.
Kulangkahkan kaki menuju sebuah rak bambu yang terisi penuh oleh kitab-kitab dan Al-Quran yang mungkin usianya sudah puluhan tahun. Lembaran isi dalam kitab-kitab itu masih utuh meski covernya sudah tak ada lagi. Di tiap sekat rak bambu buatan sendiri itu tertulis ‘…santri perempuan’ ‘…santri laki-laki’ dan beberapa tulisan lain. Di sisi lain, ada seperangkat tape dan soundsystem yang tersimpan rapi dalam sebuah rak kayu buatan sendiri juga.
Aku menghela nafas panjang dalam ruangan ini. Ingatanku kembali pada serangkain peristiwa beberapa tahun lalu. Sejak pertama kali ke tempat ini, bangunan ini masih berasal dari rangkaian kayu dan bambu, kami menyebutnya ‘langgar’. Di sinilah keluarga besar kami melakukan sholat dan aktivitas spiritual lainnya. Tiap maghrib, langgar ini selalu dipenuhi anak-anak dan pemuda-pemudi yang mengaji. Dulu kakekku yang mengajar mereka. Aktivitas itu tetap berjalan lancar meski kondisi bangunan tak sebagus rumah-rumah para santrinya.
Bertahun-tahun kemudian, ayahku datang membawa hasil jerih payahnya dari negeri Jiran dan hasil pelayarannya di beberapa samudera. Entah bagaimana prosesnya, setibaku di sana setelah beberapa kali berganti tahun, langgar bambu itu sudah berubah menjadi bangunan dari tembok, terdiri dari dua ruangan, satu ruangan untuk sholat dan ngaji. Sedangkan ruang lainnya adalah kamar ayahku. Tentu saja bangunan baru ini membangkitkan semangat para santrinya untuk mengaji meski sebenarnya jumlah santri mengalami penurunan, tergerus jaman. Kondisi ini tak membuat kakekku turun semangat apalagi anak ketiganya, Syafi’i berhasil menamatkan sekolahnya.
Aktifitas di musholla itu tetap berlangsung meski satu per satu pengajarnya menghilang. Ayahku orang yang pertama meninggalkan mereka pada tahun 1997. Mungkin ayahku tak pernah turun tangan dalam mengajar santri-santri ini tapi setidaknya perjuangannya menjadikan ruangan ini lebih baik, cukup memberikan peran yang besar. Setahun kemudian, di susul oleh kakekku. Sejak itu, pamanku, syafi’i, seorang diri meneruskan. Untungnya masih ada cucu nenekku dari anak pertamanya (sepupu laki-lakiku) tadi yang bisa membantu. Dan seorang laki-laki lagi, suami sepupu perempuanku. Tapi mana bisa disangka, suami sepupu perempuanku akhirnya menyusul kakek dan ayahku sejak 3 tahun lalu.
Hal ini lah yang membuat perempuan-perempuan di rumah ini berjuang cukup keras. Nenekku dengan tubuh rentanya (tak sekedar tubuh tapi jiwanya juga rapuh menghadapi kehilangan tiga lelaki yang jadi sandarannya) tetap bertani dibantu oleh bibiku, anak pertamanya. Kondisi ini juga memaksa sepupu perempuanku mencari nafkah sebagai TKW di Malaysia, demi menganggung nafkah dua orang anaknya. Sejak berangkat lebih dari 2 tahun lalu, dia belum pulang sekalipun.
Jumat lalu aku mampir ke rumah ini setelah mendengar kabar bahwa nenekku sakit. Alhamdulillah, ketika aku sampai sana, nenekku sudah sembuh. Orang-orang di rumah inipun melakukan aktifitas seperti biasanya. Semua tampak sehat termasuk pamanku Syafii yang terakhir kudengar bahwa penyakit asma-nya sering kumat.
Selasa lalu, sekitar pukul 10.30 aku sampai lagi di rumah ini. Lengang, tak seramai yang kuperkirakan, begitu pula yang kulihat di wajah nenekku. Kering. Itu satu kata yang bisa kugunakan untuk menggambarkan kondisiku dan kondisi nenekku. Tak setetes air matapun keluar dari mataku saat semalam aku ditelpon diperdengarkan berita duka ini, juga pada nenekku di siang ini. Mungkin kehilangan seperti ini sudah tak jadi hal luar biasa lagi bagi kami, meski di hati tetap menangis tapi tangis itu tak bisa memuncak sampai ke mata kami.
Pemakaman umum itu tepat berada di depan rumahku. Tentu saja seisi rumah dapat dengan mudah mengiringi pemakaman paman Syafi’i. Tapi aku tak tahu bahwa pagi tadi nenekku menangis dengan begitu hebatnya. Dia sempat meronta meminta agar dirinya diletakkan di liang kubur di bawah mayat putra ketiganya tersebut. Tak bisa kubayangkan luluh lantak hatinya saat melihat putra ketiganya, lelaki ke empat yang menjadi sandarannya juga mendahului dirinya. Astagfirullah. Aku sungguh iba.
Meski sudah tak ada air mata, aku bisa melihat lelah jiwa raga nenekku saat dia bercerita tentang kondisi terakhir paman syafi’i. Senin sore, asma pamanku ini kambuh. Akhirnya kakak perempuannya membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit, kondisinya bisa lebih baik. Sore itu juga, di atas tempat tidur di rumah sakit itu, paman Syafi’i membaca Al-Quran lantas bersholawat. Usainya, dengan tenang dia menghembuskan nafas terakhirnya. Sebuah akhir yang indah. Ini mungkin yang bisa membuat kami ikhlas. Akupun sebenarnya lega, dia telah mengakhiri penderitaannya yang mungkin hidupnya dalam tahun-tahun terkhir ini sangat berat, mulai dari sakit fisiknya juga tekanan psikologisnya menghadapi kegagalan-kegagalan dalam berumah tangga.
Paman Syafi’i tak meninggalkan apa-apa, tak ada istri juga anak. Dia meninggalkan ruangan penuh kitab dan Al-Quran itu, dan 20 santrinya yang membutuhkan penggantinya untuk melanjutkan pendidikan. Juga segenap cerita akan kebanggaan orang tuanya yang telah berhasil mendidik anaknya menjadi ustadz muda yang cukup bisa diperhitungkan perannya di masyarakat ini. Allah, apapun jalan yang dia tempuh semasa di dunia ini, itu tak lain adalah sebuah perjuangan untuk menemukanMu, maka dengan setulus hati, siapapun aku baginya dan apapun aku bagiMu, aku memohon tempatkanlah dia di tempat indah dan tenang di sisiMu.
Saat aku beranjak untuk meninggalkan rumah ini, nenekku sedang lelap dalam tidurnya, dia sangat kelelahan. Kubangunkan juga dia saat aku pamit beranjak dari rumah ini. Kucium tangannya dan kupanjatkan padaNya, Allah, dengan segala keterbatasanku, aku tak bisa ada di sampingnya untuk menguatkan hatinya dan menemaninya melalui hari-hari ke depan. Aku mohon, senantiasalah kesabaran dan kekuatan itu dilimpahkan padanya. Sebagai seorang ibu, seorang nenek yang telah ditempa begitu banyak cobaan maka mudahkanlah langkah jiwa raganya untuk menapaki hari-hari selanjutnya di jalanMu.
Pelajaran lain dari peristiwa ini, sebagai calon orang tua… Sebaik apapun kita mendidik anak-anak kita, seindah atau seburuk apapun hasilnya, sekeras apapun perjuangan yang telah dilalui, keikhlasan selayaknyalah senantiasa ada dalam setiap langkah. Karena, ujian itu bisa datang kapan saja dengan cara apa saja. Kadang kita sudah mendidik anak-anak kita dengan baik dan alhamdulillah hasilnya juga baik tapi Allah mengambil mereka lebih cepat. Atau kita sudah bersusah payah mendidik anak-anak kita tapi di usia dewasanya mereka sulit meraih kesuksesan dan pada akhirnya di masa tuapun kita tetap harus berjuang mati-matian demi menghidupi anak-anak dan cucu-cucu bahkan. Semua hal ini bisa terjadi, kita harus siap menghadapinya, mulai yang terindah dan terburuk. Itulah ujian bagi orang tua agar senantiasa tulus dalam mendidik anak-anaknya, tetap mondoakan yang terbaik bagaimapaun kondisi anak-anaknya, tetap berjuang demi sesuatu yang lebih baik dan senantiasa berserah diri padaNya.
Seni dalam hidup, seni dalam berumah tangga. ^_^ Tetaplah memandang semua itu sebagai bagian cerita yang membawa kita semua dalam kondisi hati yang lebih indah karena telah berhasil melalui cobaan berat yang jadi modal untuk naik pada tahap hidup selanjutnya.
semoga segala amalan beliau diterima di sisiNya, ditempatkan dalam tempat yang mulia..
amin…
Saya sendiri menjadi anak banyak melawannya.
Hamba mohon ampun ya Allah.
Terima kasih kisahnya mengispirasi saya ….