Seberapa Kita Mengenal Agama Kita? August 9, 2011
Posted by haSna- ^_^ in MenemukanMu.trackback
Bismillah
Sekitar lebih dari 2 tahun lalu, seorang teman lama melontarkan sebuah pertanyaan ringan. Sebuah pertanyaan yang tidak asing dan rasanya jawabannya aku sudah tahu dari dulu kala. Kalau hanya dalam hati aku akan dengan cepat menjawabnya. Tetapi, mengapa begitu berat mengungkapkan ketika pertanyaan itu dilontarkan?
“Allah ada dimana?” Yang langsung terbayang di kepalaku adalah lirik sebuah lagu, “Tuhan ada di sini, di dalam jiwa ini…”. Tahu bahwa jawaban ini disalahkan, aku mikir lagi. Kali ini yang teringat adalah pelajaran masa kecil dulu yang menyatakan “Tuhan ada dimana-mana.” Apa iya ini jawabannya? Karena waktu kecil pun aku sebenarnya nggak sreg dengan jawaban ini. Katanya Tuhan cuma 1, kok ada dimana-mana? Udah mentog gak nemu jawaban lain, terlontar jualah jawaban itu, dan ternyata tetap SALAH. Hh, lantas dimana?
Aku sebenarnya penasaran, tapi enggan menanyakan. Lagi pula, jaim banget, masak pertanyaan dasar gini aku gak bisa jawab. Rupanya teman lamaku ini paham dengan gelagatku. Tanpa mendebat dan ceramah ini itu, dia langsung menyodorkan sebuah flashdisc yang berisi mp3 rekaman kajian. Salah satu isinya menjawab pertanyaan yang dilontarkan tadi.
Ternyata jawabannya tertulis dengan tegas di surat ke-7 (Al-A’raf) ayat ke 54. Tak hanya dalam 1 ayat ini tetapi juga ada di surat ke-10 ayat 3, surat ke-13 ayat 2, surat ke-20 ayat 5, surat ke-25 ayat 59, surat ke-32 ayat 4, dan surat ke 57 ayat 4.
Ternyata jawabanku memang salah, lalu kenapa aku dulu diajari seperti ini? Dua puluh empat tahun aku kenal Islam, tapi seketika itu juga aku malu pada diri sendiri. Kemana saja aku selama ini. Lantas apa saja yang aku kaji? Bahkan, aku tak mengenal kitab suciku, yang setiap hari aku baca tapi ternyata tak pernah memahami apa saja yang terkandung di dalamnya. Astaghfirullah…
Apa pantas sebagai seorang muslim kita mengacu pada lirik lagu yang notabene ciptaan manusia untuk menjawab pertanyaan tentang Tuhan. Pun sebagai kaum intelektual (yah, minimal sudah lulus S1), kita tentu telah dididik untuk tak asal menjawab pertanyaan. Kita pun dilatih untuk meneliti dengan menggunakan buku acuan yang terpercaya. Kadang kita terlalu angkuh, mengagungkan akal kita untuk menjawab semua misteri. Padahal Allah telah menganugerahkan pada kita, Al-Quran yang di dalamnya ada kunci jawaban atas semua kehidupan dunia hingga akhirat. Sebuah pustaka yang tak diragukan kebenarannya di sepanjang jaman karena Allah sendiri yang berjanji akan menjaga kemurniannya.
Ya, dari mana lagi kita bisa tahu agama kita kalau tidak dengan memahami kitab suci kita sendiri. Bukan hanya berunding kesana kemari, dengan sembarang orang untuk menjawab bagaimana sebenarnya agama kita. Padahal anggota diskusi bukanlah orang yang kompeten pada bidang ini, hanya teman bermain yang sama-sama awam. Jujur, cara inilah yang dulu aku lakukan sebagai orang yang takut menghadiri kajian karena khawatir bisa jadi orang ekstrim. Tapi, pertanyaan tadi, dan jawabannya membuatku sadar pada sebuah kenyataan bahwa tak cukup belajar agama dengan diskusi sama teman, dengan hanya membaca buku-buku, tanpa “guru”.
Aku teringat pada dua buah paragraf kutipan dari kata pengantar buku “Hidupkan Hatimu (1)” karya Dr.’Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni yang cukup menginspirasiku:
Dalam era globalisasi sekarang ini, nilai-nilai agama Islam yang seharusnya dijadikan sebagai pijakan paradigma berpikir manusia sudah jauh ditinggalkan. Hal ini dapat kita maklumi karena betapa beratnya menghadapi godaan dan tantangan kehidupan. Dunia seakan-akan telah menghipnotis umat manusia bahwa hidup hanya sekali, sehingga semua orang cenderung lalai dan berlebih-lebihan dalam menjalani hidupnya. Melihat realitas itu, Islam tidak serta merta memvonis menyalahkan mereka, sebab boleh jadi mereka bukan tidak mengenal Islam, tetapi mungkin Islam yang mereka ketahui masih terlalu kaku dan intoleran serta tidak memberi harapan bagi mereka.
Fenomena tersebut menjadi tantangan bagi para cendekiawan, ulama, dan praktisi dakwah agar mengejawantahkan ajaran Islam secara proporsional, tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi juga implementasi da preseden yang baik. Bukankah formulasi ini banyak kita dapati dalam ayat-ayat Al-Quran?”
Apapun agama kita, kenali dengan sungguh-sungguh. Mungkin bisa dimulai dengan memahami kitab suci dan mencari guru yang tepat. Belajar terus hingga kita benar-benar yakin dengan pilihan kita. Salam semangat menuntut ilmu agama ^_^
******
http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
pre·se·den/présédén/ n hal yg telah terjadi lebih dahulu dan dapat dipakai sbg contoh: inilah saatnya menciptakan langkah-langkah yg adil sbg — untuk masa depan
aga·ma n ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kpd Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dng pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya: — Islam; — Kristen; — Buddha;
Comments»
No comments yet — be the first.