Agar Tak Lagi di’Interogasi’ October 18, 2011
Posted by haSna- ^_^ in Kisah.trackback
“…sori ‘mbak’ jd interogasi cos aku di tanya beberapa arek2…”. Untungnya aku tak merasa diinterogasi, sudah agak santai karena bukan sekali itu saja mengalami. Hm, ternyata memang masih banyak yang perhatian, hehe. Kalimat pertama di tulisan ini membuatku terinspirasi untuk menulis;
Perubahan. Kita berhak berubah kapan saja, dimana saja, pun memilih alasan terkuat atas perubahan yang kita lakukan. Reaksi lingkungan? Jelas macam-macam, ada yang mewajarkan, mendukung, tentunya juga meragukan dan khawatir. Termasuk urusan cara memilih pasangan hidup, apalagi kita menempuh jalan yang berbeda dan mengambil keputusan dengan cara yang tidak biasa kita lakukan seperti yang lalu. Bagaimana pun perubahan itu nantinya, ini hanya satu langkah upaya untuk menjalani hidup dengan lebih baik.
Keputusan memilih jalan yang berbeda bukanlah sebuah keberanian untuk mencoba-coba tapi tentu telah melalui pertimbangan yang matang berdasarkan pengalaman yang akhir-akhir ini mendukung dan yang paling penting, landasan terkuatnya adalah ilmu. Ilmu yang ditekuni bisa mempengaruhi sudut pandang seseorang tentang kehidupan termasuk tentang bagaimana memilih dan memutuskan sebuah perkara. Sebagai orang yang dulu sering mengedepankan perasaan, rasanya sudah saatnya mulai belajar untuk memilih dengan ilmu, memutuskan dengan ilmu, dan menjalani apapun dengan ilmu. Jika semua tindakan sudah didasari dengan ilmu yang benar, Allah akan memilah dan memilihkan yang terbaik untuk kita.
Sebuah pilihan terbaik dari kita untuk diri kita adalah, mengijinkan diri kita untuk memilih/mencari di tempat terbaik yang selama ini pernah kita singgahi dengan menyingkirkan rasa malu dan minder atas masa lalu yang buruk. Hal ini tentu diikuti segenap upaya untuk memperbaiki diri. Mungkin pasangan hidup kita bukan pahlawan yang pernah menyelamatkan hidup kita dari maut, tapi yakinkan diri kita bahwa dia akan jadi pahlawan terbaik yang akan menyelamatkan dan melindungi hidup kita dari hal-hal yang tidak benar dan sepenuh hatinya berjuang menghindarkan kita dari api neraka yang banyak mengancam kaum wanita. Hal ini juga tak akan serta merta terwujud tanpa adanya upaya dari kedua belah pihak untuk selalu menambah ilmu, saling menguatkan, melengkapi, dan mengingatkan untuk istiqomah.
Hidup ke depan memang tidaklah lebih mudah. Menghadapi pernikahan seolah seorang penuntut ilmu yang siap naik kelas. Siap naik kelas berarti siap menghadapi pelajaran yang lebih sulit. Misalnya, waktu SD, kita belum kenal integral, SMP pun belum. Setelah SMA baru kenal yang namanya integral, waktu kuliah… wah integralnya gak hanya numpuk jadi empat tapi sudah bercampur dengan sigma dan lain sebagainya. Hm, meski tahu demikian, toh kita tidak menyerah atau memilih tinggal kelas. Kita tetap berupaya sekuat tenaga untuk bisa naik kelas, karena sadar atau tidak, sebenarnya dibalik pelajaran yang sulit itu, kita ingin meraih sebuah prestasi, walaupun prestasi itu bukan hadiah milyaran dollar atau hadiah berupa materi. Kita pasti berharap di masa depan kita akan duduk/tinggal di tempat yang terbaik. Tentunya setiap akan naik kelas, kita pasti hadapi ujian. Begitu pun ujian demi ujian hadir, berupa keraguan dan kekhawatiran, baik yang terungkap langsung maupun tidak. Dari semua itu, setelah melalui tahap memilih, selayaknyalah kita menyerahkan hasilnya pada Yang Mahakuasa. Jika ini adalah jalan terbaik, pasti Allah akan menguatkan kita untuk bisa melaluinya.
Tentang perasaan? Bukankah hati itu mudah sekali berubah-ubah. Untaian kalimat cinta yang terungkap hari ini, yang kita rasa sangat romantis, tidak menjamin besok perasaan itu tetap sama. Tapi, kita juga tak akan berhenti memohon agar Allah senantiasa melimpahkan rasa cinta dan kasih sayang pada kita dan keluarga kita untuk bisa saling menyayangi, menjaga, dan menguatkan. Saat kita bisa ikhlas dan berserah padaNya, meski dimulai dengan perasaan yang netral, Alhamdulillah, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, ‘perasaan’ itu tumbuh juga. Pada saatnya nanti, Allah akan menunjukkan kelebihannya sehingga kita bisa mencintainya, Allah juga akan menunjukkan kekurangannya sehingga kita bisa menyayangi dan menjaganya.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, entah itu baik atau buruk. Nikmati saja prosesnya dan yakinlah ada hikmah di balik itu semua hingga nanti kita akan tersenyum lega seperti senyum kita di waktu lalu setelah berhasil lulus dari cobaan demi cobaan. Saat kita sudah memilih dengan cara yang benar dan menjalaninya sesuai yang dituntunkan Allah dan RasulNya, sesulit apapun yang akan dilalui, yakin Allah akan menolong kita.
Semoga bisa menjawab setiap keraguan dan kekhawatiran yang terungkap maupun terpendam.
*********************************************************************************
Kalimat yang sejak awal hingga saat ini menguatkan langkahku:
Jika engkau menikahinya karena ketampanannya atau kecantikannya, maka ketahuilah bahwa suatu saat ia akan peot dan keriput. Jika engkau menikahinya karena hartanya, sungguh ketauilah bahwa hartanya itu akan habis. Namun jika engkau menikahinya karena agamanya, maka ketahuilah bahwa engkau orang yang paling beruntung. (Dari sebuah buku kecil; 1 Minute Before Married, karya Adi Abdillah & Nia Kurniasih; Qudsi Media)
“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya, hendaklahkamu nikahkan dia karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki : “Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”
“…. , maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin,” (Al-Anfaal:62 )
jadi maksudnya gimana? *mode OON